FATRICA SYAFRI – “Moderasi beragama atau moderat dalam beragama itu tidak ekstrim kanan maupun kiri, jadi berada di tengah-tengah. Artinya kalau kita sebagai seorang pemeluk agama, maka kita harus punya keyakinan secara absolut atau kita harus yakin bahwa satu-satunya kebenaran bagi kita itu adalah agama yang saat ini kita peluk, akan tetapi pada saat bersamaan, kita pun harus mampu memberikan ruang kepada siapapun orang yang berbeda agama dan keyakinan. Jadi inti perbedaannya disitu, itu pengertian dari yang paling sederhana,”
Masih dalam penjelasannya, disampaikan bahwa ada 4 Indikator moderasi beragama, yaitu:
- Pertama adanya keterbukaan : Keterbukaan di sini artinya masih mau menerima kritik ataupun masukan masukan dari orang lain. Jadi kalau ada orang yang tidak mau dikritik, merasa dirinya paling benar, berarti orang tersebut belum moderat dalam beragama. Ketika ada perbedaan-perbedaan pendapat, orang moderat itu mau untuk mendiskusikannya.
- Mengutamakan berpikir kritis : Dalam peradaban kehidupan beragama itu kita harus dapat mengembangkan pemikiran kritis disebabkan pemahaman terhadap sumber-sumber keagamaan, misalnya untuk umat Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist membutuhkan kreativitas untuk berpikir. Kita harus tahu bagaimana cara kita mendefinisikan mana sunnah muakkad dan mana yang sunnah Ghoiru muakkad. Jadi bukan secara tekstualitas kita memahaminya. Dibutuhkan pendekatan-pendekatan ilmu, baik ilmu antropologi, sosiologi juga sejarah.
- Sadar akan keterbatasan diri ini bisa disebut juga sekaligus dengan tawadhu. Dengan modal ilmu saja tidak cukup dan jelas akan dapat menjadikan liberal/bebas, sehingga akal itu harus dijaga dengan kesadaran akan keterbatasan diri, dengan demikian ini akan menjadikan dirinya tidak semena-mena atau tidak merasa paling benar. “Kebebasan berpikir ini ternyata memiliki batas pemikiran. Sehebat apapun kita, pastinya memiliki keterbatasan, sehingga tidak boleh seseorang ulama atau seorang ahli mendewa-dewakan pemikirannya lalu menyalahkan pemikiran ulama ataupun orang lain. Diri orang moderat itu tidak mudah menyalahkan orang lain malah sebaliknya justru lebih sering menyalahkan dirinya sendiri, “ paparnya.
- Berorientasi pada kemanusiaan atau keutamaan umat artinya memberikan kemudahan pada orang lain, jadi senantiasa berfikir bersikap toleransi, bisa menghargai kebenaran yang berbeda, dan mau mendiskusikannya bersama.
“Jadi dari keempat ciri moderasi beragama yang telah saya sampaikan tersebut itu nantinya hendaknya akan semakin menjadi penguat bagi kita semua sesama pemeluk agama, nanti nya ciri- ciri tersebut bisa kita sesuaikan dengan kondisi kita masing-masing, kita sesuaikan dengan keseharian kita. Harapan saya setelah ini kita paham akan makna moderasi beserta indikator-indikatornya dan siap untuk dapat menjalankan agama dengan baik atau beragama secara moderat.”